DPRD Ikut Ramaikan Kirab Budaya Hari Jadi Kabupaten Pekalongan Ke-397

Ketua DPRD sementara Kabupaten Pekalongan Hindun dan anggota Dewan periode 2019-2024 ikut meramaikan Kirab Budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Pekalongan ke-397, Minggu (25/8/2019). Hindun dan sejumlah anggota DPRD tampak ikut dalam prosesi kirab hingga naik kereta pataka keliling dari Kantor Kecamatan Kedungwuni menuju ke Pendapa Kabupaten Pekalongan di Kota Kajen.
Berbagai prosesi mewarnai kirab budaya ini, di antaranya penyerahan pusaka dan mapanji Cempaluk, uborampe tematik berupa wahyu tumurun, penanaman pohon asam, memecahkan kendi berisi air suci, dan kirab kereta pataka sekitar 25 kereta kuda dari Pendapa Kantor Kecamatan Kedungwuni hingga ke Pendapa Kabupaten Pekalongan di Kota Kajen.
Iring-iringan kereta kirab mampu menyedot perhatian masyarakat Kabupaten Pekalongan. Sepanjang rute kirab, mulai dari Pendapa Kantor Kecamatan Kedungwuni hingga Kota Kajen masyarakat berjejer di tepi jalan menyambut jalannya kirab budaya tahun kedua ini.
Sebelum dilaksanakan kirab, mapanji Cempaluk disanggarkan di Makam Ki Ageng Cempaluk di Desa Kesesi Rejo, Sabtu (24/8). Malam harinya, usai Doa Bersama Antar Umat Beraga di Pendapa Kabupaten Pekalongan, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, jajaran Pemkab Pekalongan dan unsur Forkompinda berziarah dan berdoa bersama di Makam Ki Ageng Cempaluk. Selanjutnya, digelar Sarasehan Budaya di Pendapa Kantor Kecamatan Kesesi. Pada Minggu siang, prosesi dilanjutkan Kirab Budaya dengan start di Pendapa Kedungwuni dan finish di Pendapa Kabupaten Pekalongan.
Bupati Pekalongan Asip Kholbihi dalam sambutan Kirab Budaya menyampaikan, Kirab Budaya ini menunjukan sebuah ketulusan untuk sengkuyung membangun Kabupaten Pekalongan yang pada saat ini mulai membangun pada aspek budaya. “Kawulo sampun sowan dumateng para sepuh, para guru, bahwa Insya Allah kirab pada siang ini, yang sudah dua kali kita langsungkan, Insya Allah sampun angsal restu saking para sepuh. Mugi-mugi ini saget membangun karakter budaya khas Kabupaten Pekalongan,” ujar Bupati Pekalongan Asip Kholbihi.
Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan Gus Eko Ahmadi menerangkan, tema besar Kirab Budaya adalah mapanji Cempaluk. Sedangkan, tema kekiniannya adalah wahyu tumurun. Diterangkan, Mapanji Cempaluk merupakan sebuah simbol lokal hero dari Kabupaten Pekalongan, yakni Ki Ageng Cempaluk. “Wahyu tumurun kita berharap anugerah dari Tuhan YME kepada seluruh masyarakat Kabupaten Pekalongan turun untuk bisa disyukuri dan dile4starikan dalam bentuk kinerja-kinerja yang bisa membangkitkan semangat Kabupaten Pekalongan untuk bisa menjadi lebih baik,” terang dia.
Diterangkan, alur kirab dimulai dari Makam Ki Ageng Cempaluk berupa ziarah dan doa, pelatakan mapanji Cempaluk yang terdiri dari air suci, bendera kabupaten, bendera Merah Putih, tongkat galih asam, dan bibit pohon asam. “Setelah diletakan di Makam Ki Ageng Cempaluk untuk didoakan, akan ditanam di Pendapa Kedungwuni. Setelah ditanam di Kedungwuni, Bupati bersama masyarakat keliling dari Kedungwuni sampai Pendapa Kadipaten,” kata dia.
Menurutnya, di Pendapa Kadipaten sementara ini belum ada pasowanan agung, baru ada penyerahan pusaka kadipaten yang dulu tidak ada di kadipaten dikembalikan lagi ke kadipaten. “Pasowanan agungnya baru berupa identitas kabupaten kembali lagi. Karakter kabupaten kembali lagi. Simbolisasinya lewat yang namanya pusaka kadipaten yang akan diserahkan kepada Bupati Pekalongan,” ujar dia.
Dikatakan, wahyu tumurun sendiri ada empat simbol, yakni simbol mahkota, kukilo (burung), kusumo (bunga), dan simbol keempat uwi (lambang dari rakyat kecil). Dari empat simbol ini diharapkan pemimpinnya dan seluruh perencanaannya yang berupa simbol burung, dan keharumannya berupa hasil-hasil yang telah dicapai dan belum dicapai, dan rakyatnya semuanya sengkuyung untuk menerima wahyu tumurun. “Ke depan karena Kabupaten Pekalongan sedang punya hajat untuk pemilihan kepala desa dihasilkan pemimpin-pemimpin yang memang mendapatkan wahyu tumurun dan ideal untuk membangun masyarakat adil, makmur, damai, dan aman sepanjang masa,” tandasnya.
Peserta kirab, lanjut dia, semua OPD, kecamatan, dan komunitas budaya yang ada di Kabupaten Pekalongan, seperti sanggar budaya, komunitas motor, mahasiswa, dan pelajar dari RA hingga SMA. “Ke depan kita berharap yang beredar cukup pusakanya, dan Bupati cukup di sini (Pendapa Kajen). Untuk sementara ini Bupati masih ikut beredar karena memang sedang membangun sebuah pola kirab budayanya. Nanti ke depannya Bupati cukup di sini dan yang beredar adalah pusakanya. Tahun ini pusaka ini dikembalikan ke kabupaten. Ada 17 pusaka seperti keris, tombak, payung, tongkat komandonya. Pusaka ini dulu pernah ada di Kabupaten Pekalongan lama. Pusaka ini sudah mulai kembali lagi karena orang-orang yang mempunyai garis keturunan dan garis pemegang dari pusaka itu mau menyerahkan kembali, karena menurut beliau-beliau Kabupaten Pekalongan harus sudah kembali menjadi kabupaten yang berintegritas,” imbuhnya.(HAW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *