Kata “Palango” Hanya Ada di Pekalongan, Secara Filosofis Diartikan Mawas Diri

KAJEN – Pukul 19.00, Jumat (23/3) langit di atas kawasan Kabupaten Pekalongan tak menampakkan sinar bulan dan bintang. Hujan rintik mengguyur daerah yang dikenal Kota Santri, termasuk pelataran Kantor DPRD Kabupaten Pekalongan yang menjadi lokasi kegiatan Kojahan Budaya. Rasa was-was dari sejumlah para pengurus PWI Kabupaten Pekalongan mengenai ketidakhadiran sejumlah tamu undangan dan narasumber tidak bisa disembunyikan.

Namun, rasa was-was itu sirna kala beberapa tamu undangan dan narasumber mulai berdatangan pada pukul 20.00. Satu per satu sejumlah pegiat budaya di Kota Santri mulai hadir di pelataran rumah rakyat tersebut. Bahkan, Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Hindun dan budayawan asal Kota Pekalongan Ribut Achwandi ikut meramaikan Kojahan Budaya yang kali pertama diadakan di Kabupaten Pekalongan.

Dibuka dengan Group band lokal yang mengusung lirik-lirik bahasa Jawa Pekalongan, yaitu Sego Megono dengan lagunya berjudul “Opo Jare Mae Nyong”, Kojahan Budaya PWI Kabupaten Pekalongan dimulai. Di dalam lagu pembukaan acara tersebut terdapat lirik yang menyentil perhatian dari para peserta kegiatan tersbut, yakni kata “palango”, “po’o” dan “pa’ ora”.

Diawali lontaran dari sang host (moderator) Kojahan Budaya, Sigit Bramantyo, yaitu mengenai bahasa identitas dari warga Pekalongan, seperti yang dinyanyikan group band Sego Megono, yaitu “palango”, “po’ o” dan “pa’ ora”, menjadi tema pembahasan awal dimana hal itu menjadi bagian budaya dari sekian banyak produk budaya di Kabupaten Pekalongan bisa dijadikan sebuah brand daerah.

Menurutnya sang moderator, sebagai ‎sebuah daerah tentu membutuhkan sebuah brand untuk memperkenalkan daerah ke masyarakat luas. Brand daerah atau City branding akan lebih mudah dikenal apabila mampu mengakomodir budaya-budaya orginal dari sebuah daerah. Untuk itu, dibutuhkan kesepakatan bersama mengenai budaya yang mana? Yang seperti apa? untuk dijadikan sebuah Brand guna membranding daerah.

Perwakilan Bappeda Kabupaten Pekalongan, Ikhlas yang menjadi narsumber dalam acara tersebut menjelaskan, diakuinya budaya memang menjadi daya ungki dan dorong bagi berbagai sektor, seperti ekonomi, pengembangan daerah dan sebagainya.

Perlu diketahui bersama dalam 12 mandat rakyat yang telah dicanangkan oleh Bupati Pekalongan Asip Kholbihi dan Wakil Bupati Pekalongan, Arini Harimurti, kaitannya dengan pengembangan budaya masuk dalam butir ke-11.

“Pada 2017 kita sudah menggagas kaitan budaya bekerja sama dengan peneliti melakukan penelitian kaitannya budaya Pekalongan mengenai keterpengaruhan budaya Hindu dan budaya Mataram Islam. Selain dua hal tersebut, kita masih terus menggali identitas lain untuk mendukung City Branding,” jelasnya.

Pemerhati budaya asal Desa Gandarum, Kecamatan Kajen, Wahyu Kuncoro mengatakan, ada yang menarik dari lagu yang dinyanyikan oleh group band Sego Megono. Terutama pada lirik/kata “palango”. Menurutnya, beberapa kali ia melakukan survei kecil-kecilan dengan bertanya langsung sejumlah masyarakat di daerah lain, seperti Yogjakarta, Semarang dan lainnya, apakah ada kata “palango” itu ada di daerah tersebut. Jawabannya ternyata tidak ada. Itu artinya, kata “palango” hanya ada di wilayah pesisir Pekalongan.

” Kata palango, hanya ada di pesisir, kata tersebut secara filosofis bisa diartikan bahwa masyarakat memiliki sikap preventif. Kata palango menujukkan karakteristik masyarakat kita adalah pedagang. Seperti contoh ungkapan pada ungkapan ‘palango, nggowo dagangan sing akeh, mbokan laris’ (buat jaga-jaga bawa dagangan yang banyak, siapa tahu nanti laku keras),” terangnya.

Budayawan asal Kota Pekalongan Ribud Achwan sekaligus Dosen Bahasa Indonesia, Universitas Pekalongan, ‎menjelaskan, kata palango secara penulisan terdiri atas kata “palang” kemudian ada tambahan “o”. Palang berarti waspada. Artinya secara filosifis bisa diartikan masyarakat Pekalongan memang sudah memiliki sikap waspada dan mawas diri.

Sementara itu, Ketua PWI Kabupaten Pekalongan, Agus Setiawan didampingi Sekretaris, Triyono menyatakan, acara Kojahan Budaya digelar sebagai wujud kepedulian mengenai budaya. Kepedulian itu diwujudkan dengan membentuk forum diskusi dengan nama ‘Kojahan Budaya’. Adapun mengenai temanya adalah “Memperkuat Branding Daerah Melalui Budaya Lokal”(i)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *