Kegiatan Dewan

Dadi Kajen, Antara Simbol dan Semangat Membangun

 

 

 

PERJALANAN panjang Kabupaten Pekalongan meningkatkan kepekaan terhadap masyarakat (sense of crisis), rasa memiliki (sense of belonging) terhadap daerah yang memiliki julukan Kota Santri, dengan muara memunculkan rasa cinta dan bangga akan tanah tinggal dan tempat kelahiran, telah dilakukan pemerintah sejak memutuskan untuk memiliki pusat pemerintahan di daerah sendiri.



Semula pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan berada di kawasan Alun-Alun Nusantara, Kota Pekalongan. Gedung DPRD juga berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Kota Pekalongan. Kemudian ketika menjabat Bupati Pekalongan periode 2001-2006, untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dengan memiliki pusat pemerintahan di daerah sendiri, muncul ide memindahkan pusat pemerintahan di Kajen.

Prakarsa yang didukung DPRD dan dibantu elemen masyarakat pada waktu itu, akhirnya berbuah pelaksanaan pemindahan pusat pemerintahan ke Kajen dan meninggalkan kenangan di pemerintahan lama di Kota Pekalongan. Tepatnya 25 Agustus 2001 perpindahan dilaksanakan. Layaknya bedol desa, semua kantor-kantor pemerintah Kabupaten Pekalongan dipindah ke wilayah sendiri dan Kajen dipilih sebagai pusat pemerintahan untuk mendekatkan diri kepada masyarakat, termasuk gedung DPRD.

Dengan berdasar pada tiga filosofi, perpindahan pusat pemerintahan ke Kota Kajen dilakukan sebagai upaya untuk menjadikan Kabupaten Pekalongan benar-benar 'Kajen' atau arti makna kata Jawa sebenarnya yakni terhormat. Tiga filosofi itu, pertama untuk mewujudkan eksistensi sebuah kota kabupaten yang mandiri memiliki harga diri dan mempunyai jati diri sebuah kabupaten. Kedua, mengembangkan kota Kabupaten Pekalongan dan ketiga, mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Sebab pemerintah dalam melakukan pelayanan semestinya mendekat ke rakyat. Bukan sebaliknya, rakyat yang mendekat ke pemerintah.

Paradigma ini menjadi bahan pertimbangan utama menempatkan kantor pelayanan publik dalam satu kawasan, di Kota Kajen. Tujuan utamanya adalah mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Sebelum pusat pemerintahan berada di Kajen masyarakat harus ke Kota Pekalongan untuk mengurus persoalan administrasi. Ini tidak efektif serta membebani masyarakat karena faktor jarak tempuh cukup jauh, terutama warga di daerah atas seperti Kecamatan Kandangserang, Paninggaran, Lebakbarang dan Petungkriyono.

Berdasarkan dokumentasi hukum yang ada, kepindahan ibu kota Kabupaten Tingkat II Pekalongan ke Kota Kajen sudah direncanakan pada tahun 1986. Hal itu ditandai terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1986 Tanggal 13 November 1986.

Pada saat menjabat kembali sebagai kepala daerah di Kabupaten Pekalongan periode 2011-2016. Keinginan untuk membangun tatanan baru untuk pencitraan daerah agar Kota Kajen benar-benar terhormat menguatkan semangat dalam memimpin daerah. Semua kekuatan yang ada di pemerintahan termasuk seluruh elemen masyarakat kembali dipersatukan untuk membuat rencana strategis (Renstra) pembangunan jangka panjang 2011-2016, serta masuk dalam Visi dan misi Pembangunan Kabupaten Pekalongan tahun 2011-2016. Visi dan misi itu adalah mewujudkan Kabupaten Pekalongan yang sejahtera dan bermartabat berbasis kearifan lokal.

Yaitu dengan menggali seluruh potensi yang dimiliki dengan pengelolaan secara baik sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup masyarakat secara mandiri. Dimana hal itu merupakan tekad untuk mewujudkan masyarakat Kabupaten Pekalongan yang berdikari dibidang ekonomi, maju dibidang pendidikan, kesehatan serta berkarakter, terhormat sebagai jati diri masyarakat Kabupaten Pekalongan.

Refleksi tiga tahun memimpin bersama Fadia Arafiq menjadi titik tolak kesadaran, semua cita-cita awal membangun kota yang memiliki jati diri belum terwujud. Berawal dari refleksi tiga tahun serta melihat tiga filosofi mendasar perpindahan pusat pemerintahan ke Kota Kajen muncul pemikiran Dadi Kajen. Ada dua maksud dari Dadi Kajen ini, pertama adalah agar masyarakat Kabupaten Pekalongan itu diajeni atau dihormati. Kedua kemungkinan untuk mengubah nama menjadi Kabupaten Kajen.

Kemudian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pekalongan ke-392, 25 Agustus 2014,  dengan mengambil tema Dadi Kajen Move On. Tema ini merupakan sebuah spirit gerakan moral bagi Pemkab Pekalongan untuk terus melakukan perubahan menuju ke arah lebih baik. Adapun nanti "dadi kajen" berkembang dan diartikan sebagai transfomasi perubahan nama Kabupaten menjadi Kabupaten Kajen, hal tersebut saya serahkan kepada kehendak dan keputusan masyarakat.

Indikator yang sudah mulai tampak sekarang ini adalah berdirinya Akademi Komunitas Negeri Kajen. Perguruan tinggi ini menjadi harapan untuk mencerdaskan masyarakat Kabupaten Pekalongan guna meningkatkan daya saing. Sebab kemajuan daerah tidak akan lepas dari peningkatan daya saing, Akademi Komunitas Negeri Kajen menjadi solusi menciptakan tenaga terampil berbasis teknologi menghadapi era globalisasi. Karena Dadi Kajen Move On bukanlah simbol semata, melainkan gerakan moral penyemangat terus melakukan perubahan.

Sedangkan dalam jajaran birokrasi aparatur pemerintah daerah, diperlukan langkah-langkah strategis guna mendorong peningkatan profesionalisme birokrasi agar sejalan dengan semangat Reformasi Birokrasi. Pemberian reward and punishment kepada satuan perangkat kerja daerah berupa SKPD award dan lomba pelayanan antarkecamatan merupakan stimulan dan pemicu bagi aparatur pemerintah daerah agar selalu peka terhadap tuntutan masyarakat. Dimana berdasarkan buku karya David Osborbne dan Tedd Gaebler Good Governance (1992), tiga fungsi pemerintah adalah publice service, developing, and Empowering.
Penulis : Agus Setiawan
Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Kelurahan Pekajangan, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan

 

 

 

HUBUNGI KAMI

Sekretariat DPRD Kabupaten Pekalongan
Alamat Jl. Alun-alun Utara No.2
Kajen
Jawa Tengah
Kode Pos 51161
Indonesia
Telp : 0285-381928

: